Sabtu, 27 April 2019

PERSAMAAN DAN PERBEDAAN JARIMAH TA’ZIR, HUDUD DAN QISHASH


BAB II
PEMBAHASAAN

PERSAMAAN DAN PERBEDAAN JARIMAH TA’ZIR, HUDUD DAN QISHASH
A. Jarimah Ta’zir
            Ta’zir menurut arti katanya adalah at ta’dib artinya memberi pengajaran. Dalam fiqih jinayah ta’zir merupakan suatu bentuk jarimah,yang bentuk atau macam jarimah serta hukuman(sanksi) jarimah ini ditentukan oleh penguasa.
Jadi jarimah ini sangat berbeda dengan jarimah qishash/diyat dan hudud yang meacam jarimah  dan bentuk hukumnnya telah ditentukan oleh syara’. Tidak ditentukan macam hukuman pada jarimah ta;zir sebab jarimah ini berkaitan dengan perkembangan masyarakat serta kemaslahatannya.
ü  Ta’rif Jarimah Ta’zir :
ا لتعز ير هو : تا د يب علئ ذ نو ب لم تشر ع فيها ا لحد و د اي هو عقوبة علي جرائم لم تضغ الشريعة لانها عقوبة مقدرة

Tazir adalah pendidikan atas dosa-dosa yang belum di syariatkan padanya hukuman (yang belum ditentukan hukuman padanya). Dianya hukuman atas tindak pidana yang tidak ada tempat syariatnya karena bahwasanya hukuman itu dikuasakan
ü  Dasar hukum tentang Ta’zir dalam Al-Quran yaitu
Q.S An-nur:2
الزانية والزاني فاجلدوا كل واحد منهما مائة جلدة ولا تأخذكم بهما رأفة في دين الله إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الاخر وليشهد عذابهما طا ئفة من المؤمنين
perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama allah, jika kamu beriman kepada allah, dan hari akhirat, dan hendaklah(pelaksanaa) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.
ü  Macam-macam Ta’zir :
1.    تعزيربالنص                                                                               
2.      تعريرغيربا النص                                                                                       
B. Jarimah Hudud
            Hudud adalah suatu jarimah yang bentuknya ditentukan syara’ sehingga terbatas jumlahnya, selain ditentukan bentuknya, juga ditentukan hukumannya secara jelas, baik melalui Al-Quran maupun As-sunnah. Lebih dari iitu jarimah ini termasud dalam jarimah yang menjadi hak Allah.
ü  Ta’rif Jarimah Hudud
الحدود هو العقاب الذي تحدده السرعية وهو حق الله
Hudud adalah hukuman yang ditentukan oleh syara’ dan merupakan hak Allah
ü  Macam-macam Jarimah Hudud :
1.      الذني ( zina)
2.      القذف   (penuduh Zina)                                                                                  
3.      السرقة (pencuri)                                                                                             
4.      الحرا بة (begal/perampas)                                                                              
5.      الشرب (Mabuk)                                                                                            
6.      البغي    ( pemberontak)                                                                                   
7.      الردة    (Murtad)                                 
           
                                                           
ü  Dalil hukum tentang Hudud dalam Al-Quran
Q.S Al-Maidah : 38
والسارق والسارقة فاقطعوا ايديهما جزاء بما كسبا نكالا من الله والله عزيز حكيما
Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) balasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari allah. Dan alah Maha perkasa lagi Maha bijaksana
C. Jarimah Qishash
            Qishash menurut etimologi berarti “memotong” atau “mengikuti” yang berarti mengikuti perbuatan penjahatan dengan perbuatan yang sebanding mengikuti perbuatan penjahat dengan perbuatanyang sebanding dengan perbuatan yang telah dilakukannya[1]. Menurut terminologi ‘qishash” berarti pembalasan yang serupa dengan perbuatan atas pembunuhan, melukai, merusak anggota tubuh lainnya, atau menghilangkan manfaatnya sesuai denga jarimah yang dilakukannya dan merupakan hak hamba/manusia[2]
ü  Ta’rif Jarimah Qishash

القصاص هو الجرائم التى يعاقب عليها بقصاص او دية حقا للافراد
Qishash adalah hukuman yang telah ditentukan sebagai hak perseorangan. Maksud hak perseorangan adalah bahwa korban boleh memaafkan pelaku apabila ia kehendaki

ü  Macam-macam Jarimah Qishash :
1.                           القتل العمد         (membunuh sengaja)                                      
2.                           القتل الخطاء      (membunuh tidak sengaja)                             
3.                           القتل سبه العمد  (membunuh menyerupai sengaja)                   
4.                           الجرح العمد       (melukai sengaja)                                                       
5.                           الجرح الخطاء   (melukai tidak sengaja)                                                                                  
ü  Dasar hukum tentang Qishash dalam Al-Quran
Q.S Al-Baqarah:178
يأيهاالذين امنوا كتب عليكم القصاص في القتلي الحر بالحر والعبد بالعبد والانثي بالأنثي فمن عفي له من أخيه شيئ فاتباع بالمعروف وأداء اليه باحسان ذلك تخفيف من ربكم ورحة فمن اعتدى بعد ذلك فله عذاب أليم
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik(pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari tuhan kamu dan suatu rahmad. Barang siapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih”

Ø  PERBEDAAN JARIMAH TA’ZIR DAN JARIMAH HUDUD
1. Mufawwadh
            Jarimah ta’zir bersifat mufawwadh (diserahkan) kepada kebijakan hakim yang berwenang, sedangkan jarimah hudud ditetapkan langsung oleh Allah SWT
2. Tidak Dicegah Dengan Syhubuhat
            Meskipun masih syubhat, dalam tindakan dalam jarimah ta’zir, jarimah tetap bisa dijalankan dan dijatuhkan. Sedangkan jarimah hudud berbeda dibanding jarimah hudud, dimana jarimah hudud harus ditolak kalau masih adanya syubhat.
3. Berlaku Juga Untuk di Bawah Umur
            Anak-anak yang masih dibawah umur tetap bisa dihukum dengan cara ta’zir. tidak seperti jarimah hudud yang tidak berlaku untuk kasus-kasus dimana pelakunya adalah anak-anak dibawah umur
4. Selain Hakim Boleh Menta’zir
            Kalau jarimah hudud hanya boleh dilakukan oleh seorang hakim, maka jarimah ta’zir sebaliknya, boleh dilakukan oleh selain hakim.
5. Ta’zir tidak mengenal Ruju’
            Kalau hukum hudud masih diperkenakan seseorang menarik kembali pengakuannya atau persaksiannya, maka dalam ta’zir hal itu tidak berlaku
6. Tidak Dicegah Dengan Syubhat
            Dalam hukum ta’zir pelaku kejahatan yang masih dalam status tertuduh tidak perlu ditahan. Hal ini berbeda dengan hukum hudud, bahwa pelakunya ditahan terlebih dahulu, sehingga terbukti tidak bersalah lalu dibebaskan ataupun terbukti bersalah dan dijatuhi hukuman
7. Berlaku Syafaat
            Orang yang dihukum dengan hukuman ta’zir bisa dibebaskan atau diringankan hukumannya lewat syafaat. Sedangkan dalam hukuman hudud, syafaat tidak berlaku
8. Hakim Boleh Meninggalkannya
            Karena hukum ta’zir bersifat mufawwash kepada hakim, maka penerapan tergantung kepada kebijakan hakim. Dalam hal ini, seorang hakim boleh melaksanakannya atau meninggalkannya sama sekali. Berbeda dengan hukum hudud, dimana hakim dan semua perangkat hukum tidak boleh meninggalkan kasusnya
9. Tidak Bisa Gugur Dengan Taqadum
            Hukum ta’zir tidak bisa gugur dengan taqadum, sebaliknya hukum hudud justru bisa gugur karena taqadum

Ø  PERSAMAAN JARIMAH TA’ZIR DAN JARIMAH HUDUD
Persamaan jarimah ta’zir dan jarimah hudud sama-sama memiliki tujuan menghukum pelaku kejahatan

Ø  PERBEDAAN JARIMAH QISHASH DAN HUDUD
1. jarimah qishash adalah hak manusia sedangkan jarimah hudud adalah hak allah
2.Dalam jarimah qishash ada sanksi pengganti, tapi ada sanksi tambahan sedangkan dalam jarimah hudud tidak ada sanksi pengganti tapi ada sanksi tambahan
3. Dalam jarimah hudud umumnya hanya ada satu sanksi dalam satu jarimah sedangkan jarimah qishash bisa bertambah jika ada permintakan dari korban atau wali
4. Jarimah qishash ada pemanfaatan dan jarimah hudud tidak ada pemanfaatan

Ø PERSAMAAN JARIMAH QISHASH DAN HUDUD
1. Sama –sama ditentukan
2. Sama-sama memiliki jumlah yang terbatas
3. Sanksinya ditentukan
4. Bersifat asas legalitas ketat
5. kekuasaan hakim terbatas
6. Tidak dapat dikenakan pada anak kecil dan orang gila

Ø  PERBEDAAN JARIMAH QISHASH DAN JARIMAH TA’ZIR
1. Jarimah qishash ditentukan tetapi jarimah ta’zir ada yang ditentukan ada yang tidak
2. jarimah qishash ditentukan jumlahnya tetapi jarimah hudud ditentukan
3. Sanksi dalam jarimah qishash ditentukan tetapi jarimah ta’zir tidak
4. Jarimah qishash bersifat legalitas tetapi jarimah ta’zir bersifat elastis
5. jarimah qishash memabatasi kekuasaan hakim tetapi jarimah hudud tidak membatasi kekuasaan hakim

Ø  PERSAMAAN JARIMAH QISHASH DAN JARIMAH TA’ZIR
Persamaan jarimah qishahs dan jarimah ta’zir samasama memiliki tujuan yang bersifat mendidik atas perbuatan kejahatan dosa yang dilakukan agar ada titik jera pada pelaku         














BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Dari defenisi tersebut dapatlah dipahami bahwa hukuman adalah salah satu tindakan yang diberikan oleh syara’,dengan tujuan untuk memelihara ketertiban dan kepentingan masyarakat,sekaligus juga untuk melindunggi kepentingan individu.dan hukuman jarimah ta’zir, hudud dan juga qishash memeliki perbedaan dan persamaan dari banyak segi,dan dari makalah ini kita dapat mengetahui perbedaannya tersebut

B.     SARAN
  Mengamalkan perbedaan dan persamaan jarimah ta’zir, hudud dan juga qishash, kita sudah dapat mengetahui hukuman tersebut
Hukum bukan hanya sebagai pajangan peraturan negara saja, tetapi sepatutnya kita harus menjalankan atau memaatuhi peraturan itu, agar negara aman, nyaman dan damai.










DAFTAR PUSTAKA
A.Djazuli. Fiqh Jinayah. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000.
Ahmad Wardi Muslich. Pengantar dan Asas Hukum Pidana Islam (Fikih Jinayah). Jakarta: Sinar Grafika, 2004
Hasan Mustofa dan Beni Ahmad Saebani. Hukum Pidana Islam (Fiqih Jinayah), Bandung: Pustaka Setia, 2013



[1] Abdul Qadir Audah,loc.cit.Haliman,op.cit hlm 275
[2] Ibid hlm 79

Tidak ada komentar:

Posting Komentar